KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM
BINER FENOL AIR
Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
ishriarju@gmail.com, 085747319610
50225
Abstrak
Tujuan percobaan
ini adalah memperoleh hubungan sistem fenol-air terhadap temperatur pada
tekanan tetap dan untuk mengetahui temperatur kritis kelarutan timbal balik
sistem fenol-air. Metode yang digunakan yaitu menghubungkan plot komposisi air
terhadap temperatur pada tekanan tetap, sehingga diperoleh suhu minimal agar
fenol dan air dapat saling melarutkan. Komposisi campuran fenol-air merupakan
variabel bebas, temperatur merupakan variabel terikat, dan tekanan dijadikan
variabel kontrol. Kurva yang diperoleh berbentuk parabola dengan titik puncak
yang merupakan temperatur kritis (temperatur minimal agar fenol dan air berada
dalam satu fasa). Di atas temperatur kritis, fenol dan air berada dalam satu
fasa tetapi di bawah temperatur kritis, fenol dan air berada dalam dua fasa.
Fenol dan air yang berada dalam dua fasa dapat larut homogen dalam satu fasa
apabila temperatur dinaikkan mencapai titik balik atau melewati titik baliknya.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa temperatur kritis yang diperoleh yaitu
sebesar 64.5°C dengan komposisi air dan fenol berturut-turut adalah 0.05 dan
0.95. Hasil yang diperoleh kurang sesuai dengan teori karena kesalahan prosedur
percobaan, begitu juga dengan kurva fraksi mol air-temperatur yang kurang
membentuk parabola.
Kata kunci: fenol-air; kelarutan;
temperatur kritis.
Abstract
The purpose of this experiment is to obtain the
relationship phenol-water system with temperature at a constant pressure and to
determine the critical temperature reciprocal solubility of phenol-water
system. The method used is to connect the water composition versus temperature
plots at constant pressure, in order to obtain a minimum temperature of phenol
and water can dissolve each other. Composition of the phenol-water mixture is
the independent variable, temperature is the dependent variable, and control
variables used pressure. Parabolic curves obtained with the culmination of
which is the critical temperature (the temperature minimum order of phenol and
water are in one phase). Above the critical temperature, phenol and water are
in one phase but below the critical temperature, phenol and water are in two
phases. Phenol and water are in two phaes homogeneous soluble in one phase when
the temperature was increased to reach a turning point or pass the point behind
it. The experimental results show that the critical temperature is obtained tha
is equal to 64.5°C with a composition of water and phenol respectively 0.05 and
0.95. the results obtained in accordance with the theory because it is less
error experimental procedure, as well as the mole fraction of water-temperature
curve less parabolic shape.
Keywords: critical temperature; phenol-water;
solubility.
Pendahuluan
Kelarutan (solubility) adalah kemampuan jumlah maksimum zat terlarut (solute) yang dapat larut dalam suatu zat
pelarut (solvent) pada kesetimbangan
tertentu. Zat-zat tersebut dapat larut dengan komposisi tertentu pada suatu
pelarut atau disebut miscible. Zat-zat
yang bersifat homogen seperti gas-gas pada umumnya merupakan satu fasa.
Sedangkan padatan dengan padatan atau cairan dengan cairan dapat membentuk dua
fasa apabila tidak saling bercampur (Dogra & Dogra, 2008).
Jika terdapat dua zat cair dicampurkan,
terdapat beberapa kemungkinan campuran yang terjadi. Kemungkinan pertama adalah
kedua cairan tersebut dapat larut dan saling melarutkan membentuk satu fasa
atau disebut miscible. Kemungkinan
kedua adalah kedua cairan tersebut tidak saling bercampur dan membentuk dua
fasa atau disebut immiscible.
Sedangkan kemungkinan yang ketiga yaitu kedua cairan tersebut membentuk satu
fasa pada awalnya tetapi setelah penambahan salah satu cairan pada campuran
tersebut akan membentuk dua fasa atau disebut larutan non ideal (Castellan, 1983).
Pada sistem biner fenol-air, terdapat
dua komponen, yaitu fenol dan air. Antara fenol dan air dapat saling larut dan
melarutkan tergantung pada temperatur tertentu dan sehingga membentuk satu
fasa. Setiap komponen pada campuran tersebut mempunyai suhu minimal untuk
membentuk satu fasa atau dapat saling larut dan melarutkan.
Fenol dan air apabila dicampurkan akan
memiliki kelarutan timbal balik, yaitu larut sebagian apabila temperaturnya
kurang dari temperatur kritis, larut sempurna apabila mencapai temperatur
kritis, dan akan larut sebagian kembali apabila melewati temperatur kritis
tersebut. Temperatur kritis adalah temperatur minimum yang dibutuhkan kedua zat
tersebut untuk bercampur secara homogen.
Sistem biner fenol-air memperlihatkan
kelarutan timbal balik pada temperatur tertentu dan tekanan tetap (Wahyuni,
2013). Sistem ini terdiri dari dua komponen campuran yang berbeda, yaitu fenol
dan air, oleh karena itu disebut sistem biner fenol-air. Kelarutan sistem ini
akan berubah apabila ditambah dengan salah satu komponen dalam campuran
tersebut. Berikut adalah hubungan komposisi campuran fenol-air terhadap
temperatur pada tekanan tetap.
Gambar
1. Hubungan Komposisi Fenol-Air terhadap Temperatur
Temperatur kritis atau TC
merupakan batas temperatur terjadinya pemisahan fase. Pada temperatur ini
terjadi gerakan termal yang lebih besar yang menyebabkan kedua komponen dapat
bercampur menjadi satu fasa (Atkins, 1999). Dengan kata lain, temperatur kritis
adalah temperatur yang digunakan oleh kedua komponen dalam campuran untuk larut
sempurna menjadi satu fasa.
Uraian-uraian tersebut diatas
menunjukkan bahwa permasalahan yang akan diselesaikan adalah bagaimana
memperoleh hubungan sistem fenol-air terhadap temperatur pada tekanan tetap dan
berapakah temperatur kritis kelarutan timbal balik sistem fenol-air. Tujuan
percobaan ini adalah memperoleh hubungan sistem fenol-air terhadap temperatur
pada tekanan tetap dan untuk mengetahui temperatur kritis kelarutan timbal
balik sistem fenol-air.
Metode
Alat yang digunakan pada percobaan
kelarutan timbal balik sistem biner fenol-air ini adalah buret 25 ml beserta
statif dan klem, termometer raksa, pengaduk, tabung reaksi pyrex berdiameter 4 cm, gelas kimia 250 ml, dan waterbath. Bahan yang
digunakan pada percobaan ini adalah fenol dan aquades (air). Fenol yang telah
ditimbang sebanyak 5,0167 gram dimasukkan ke dalam tabung reaksi berdiameter 4
cm. Rangkaian buret yang telah disiapkan diisikan dengan aquades sampai tanda
batas. Fenol dalam tabung reaksi diberi aquades melalui buret sampai terjadi
kekeruhan untuk yang pertama kali. Volume aquades yang dibutuhkan untuk
mengeruhkan fenol pertama kali dicatat pada tabel kerja. Campuran tersebut lalu
dipanaskan dalam waterbath sambil diaduk-aduk sampai campuran menjadi jernih
dan dicatat temperaturnya sebagai T1. Campuran fenol-air tersebut dipanaskan
kembali sampai temperatur T1+4°C, lalu didinginkan sampai terjadi
kekeruhan lagi. Temperatur pada saat terjadi kekeruhan lagi dicatat sebagai T2.
Campuran tersebut dibiarkan sampai temperaturnya kembali normal (sama dengan
temperatur ruangan) baru kemuadian ditambahkan aquades lagi sejumlah x ml dan
dilanjutkan seperti langkah sebelumnya. Penambahan aquades tersebut dilakukan
sebanyak n kali untuk memperoleh titik maksimum (temperatur kritis) sehingga
akan terbentuk kurva parabola.
Beberapa variabel yang digunakan pada
percobaan ini yaitu variabel kontrol, variabel bebas, dan variabel terikat.
Variabel kontrol pada percobaan ini adalah tekanan yang dibuat konstan atau
tetap. Variabel bebas yang digunakan adalah komposisi fenol-air. Sedangkan
variabel terikatnya adalah temperatur minimal campuran tersebut agar dapat
larut dan saling melarutkan.
Analisis data yang digunakan pada
percobaan ini adalah menghubungkan komposisi fenol-air terhadap temperatur
tertentu pada tekanan tetap sehingga diperoleh kurva parabolah dengan titik
maksimum yang merupakan temperatur kritis kedua komponen untuk saling
melarutkan.
Hasil Dan Pembahasan
Fenol dan air merupakan dua komponen
yang apabila dicampurkan akan melarutkan sebagian. Pada penambahan salah satu
komponen dari campuran tersebut menjadikan fenol dan air dapat larut sempurna.
Namun, apabila penambahan terjadi secara terus menerus, fenol dan air akan
kembali berada dalam dua fasa. Penambahan salah satu komponen dari campuran
juga dipengaruhi oleh temperatur. Pada temperatur tertentu (TC),
fenol dan air berada dalam satu fasa. Diatas TC, fenol-air tetap
berada dalam satu fasa tetapi dibawah TC fenol-air akan berada dalam
dua fasa. Tabel 1 menunjukkan temperatur minimal fenol-air pada komposisi
tertentu berada dalam satu fasa.
Tabel 1. Temperatur minimal fenol air
supaya berada dalam satu fasa
Setiap komponen (fenol dan air)
mempunyai suhu minimal untuk dapat saling melarutkan dengan komposisi tertentu.
Sistem biner fenol-air memperlihatkan kelarutan timbal balik pada temperatur
tertentu dan tekanan tetap (Wahyuni, 2013). Sesuai dengan Tabel 1, penambahan
salah satu komponen (air) akan meningkatkan temperatur hingga mencapai titik
tertinggi (titik balik) yang merupakan temperatur minimal kedua komponen dapat
saling melarutkan. Apabila penambahan air dilakukan kembali, akan diperoleh
penurunan temperatur yang menyebabkan kedua komponen tersebut kembali berada
dalam dua fasa. Gambar 2 akan memperjelas hubungan fraksi mol komponen (air)
terhadap temperatur pada tekanan tetap.
Gambar 2. Hubungan fraksi mol air
terhadap temperatur pada tekanan tetap
Terlihat bahwa temperatur kritis
menurut Tabel 1 dan Gambar 2 (sesuai hasil percobaan) adalah 64.5°C dengan
komposisi air adalah 0.05 dan komposisi fenol adalah 0.95. pada temperatur
kritis tersebut, sistem fenol-air berada dalam satu fasa dan saling melarutkan.
Di atas temperatur kritis tersebut, campuran fenol dan air tetap berada dala
satu fasa. Sedangkan di bawah temperatur kritis tersebut, campuran ini berada
dalam dua fasa atau larut sebagian.
Menurut teori, temperatur kritis untuk
sistem biner fenol-air adalah 65.85°C dan membentuk kurva parabola. Namun,
hasil yang diperoleh dari percobaan yaitu temperatur kritis sebesar 64.5°C dan
kurva yang diperoleh belum membentuk parabola tetapi mengalami kenaikan dan
penurunan temperatur. Hasil yang diperoleh kurang sesuai dengan teori karena
adanya kesalahan pada prosedur percobaan, yaitu setelah mencatat T2,
campuran fenol-air pada tabung reaksi tidak dibiarkan sampai temperaturnya
normal (sama dengan temperatur ruangan) tetapi justru langsung ditambahkan air
kembali. Selain itu, kesalahan dalam membaca skala pada buret dan termometer
juga mempengaruhi ketidak-akuratan data yang diperoleh.
Kesimpulan
Sesuai dengan hasil percobaan maka
dapat disimpulkan dua hal, yaitu: 1) kurva yang diperoleh mendekati kurva
parabola dan 2) temperatur kritis yang diperoleh yaitu 64,5°C dengan komposisi
fenol dan air berturut-turut adalah 0.95 dan 0.05. Akibat kesalahan prosedur percobaan,
hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori sehingga kurva kelarutan timbal
balik fenol-air kurang mendekati bentuk parabola.
Daftar Pustaka
Castellan, G. W.. 1983. Physical Chemistry. USA: Addison-Wesley Publishing Company, inc.
Dogra, S dan Dogra S. K.. 2008. Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta: UI-Press.
Atkins, P. W.. 1999. Kimia
Fisika. Jakarta: Erlangga.
Wahyuni, Sri. 2013. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik.
Semarang: Jurusan Kimia FMIPA UNNES.
Wahyuni, Sri. 2003. Buku Ajar Kimia Fisika 2. Semarang:
UNNES.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar